
Bahkan, pertumbuhannya lebih signifikan dibandingkan pertumbuhan konsumsirumah tangga dan pemerintah yang relatif stagnan dibandingkan kuartal I 2017.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sumbangan ekonomi dari investasi meningkat drastis dari 1,53 persen pada kuartal I 2017 menjadi 2,54 persen pada kuartal I 2018. Bahkan, sumbangannya juga naik dari 2,45 persen dibandingkan kuartal IV 2017.
Tercatat, investasi dari domestik dan asing mencapai Rp185,3 triliun (yoy) pada kuartal I 2018. Realisasi itu tumbuh 11,8 persen dari kuartal I 2017.
"Pertumbuhan investasi didorong oleh hampir seluruh jenis barang modal. Misalnya, pertumbuhan barang modal jenis mesin yang dipengaruhi oleh meningkatnya produksi domestik dan impor. Selain itu, pembangunan infrastruktur di daerah masih berlangsung, baik yang baru dan lanjutan," ucap Ketjuk, sapaan akrabnya, di Kantor BPS pada Senin (7/5).
Lalu, investasi ke komponen kendaraan tumbuh 14,37 persen, peralatan lainnya 17,81 persen, bangunan 6,16 persen, dan produk kekayaan intelektual 1,22 persen. Sementara itu, komponen investasi satu-satunya yang tumbuh melambat hanya CBR minus 0,43 persen.
Pertumbuhan investasi yang 'tokcer' ini berhasil mengimbangi pertumbuhan dan kontribusi yang stagnan dari komponen konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Tercatat, kontribusi konsumsi rumah tangga bertahan di angka 2,72 persen dari kuartal I 2017 ke kuartal I 2018. Begitu pula dengan konsumsi pemerintah, yang hanya menyumbang 0,16 persen ke pertumbuhan ekonomi.
Untuk konsumsi rumah tangga, Ketjuk bilang, sebenarnya masih menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi, yakni mencapai 56,8 persen. Namun, pertumbuhannya hanya naik tipis dari kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen menjadi 4,95 persen pada kuartal I 2018. Sedangkan bila dibandingkan dengan kuartal IV 2017, pertumbuhannya justru melambat karena sebelumnya telah menyentuh 4,97 persen.
Ketjuk menduga, hal ini lantaran pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi lebih rendah. Misalnya, konsumsi untuk makanan dan minuman hanya tumbuh 5,12 persen dari 5,24 persen pada Januari-Maret 2017. Lalu, pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan hanya 5,43 persen dari 6,09 persen dan transportasi dan komunikasi hanya 4,92 persen dari 5,3 persen.
Ketjuk bilang, hal ini terlihat dari meningkatkan konsumsi restoran dan hotel yang naik dari 5,4 persen menjadi 5,56 persen, konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya dari 3,29 persen menjadi 5,09 persen, dan konsumsi perumahan dan perlengkapan rumah tangga naik dari 4,06 persen menjadi 4,57 persen.
Kendati begitu, Ketjuk mencatat, konsumsi rumah tangga sebenarnya masih cukup baik bila dibandingkan dengan kuartal I 2017. Pasalnya, bila dilihat lebih riil, ada peningkatan konsumsi meski hanya 0,01 persen lantaran derasnya aliran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.
"Bansos tunai dari pemerintah tumbuh 87,61 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya tumbuh 2,86 persen," terangnya.
Menurutnya, peningkatan bansos tersebut menjadi indikasi bahwa konsumsi pemerintah juga meningkat, meski kontribusinya relatif stagnan seperti halnya konsumsi rumah tangga.
Ia mencatat, pertumbuhan konsumsi pemerintah naik dari 2,69 persen menjadi 2,73 persen pada kuartal I 2018. Namun, bila dibandingkan dengan kuartal IV 2017 justru turun, lantaran pada periode itu pertumbuhannya telah mencapai 3,81 persen.
"Sebenarnya ini ada kenaikan, karena pertumbuhan belanja barang dan bansos dalam APBN meningkat. Kenaikan belanja bansos didirong oleh belanja jaminan sosial yang digunakan utnuk pemabyaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) di muka dan belanja perlindungan sosial," jelasnya.
Ekspor Terkontraksi
Sementara itu, pertumbuhan indikator ekspor tumbuh 6,17 persen, namun sumbangan bersihnya (net ekspor) justru minus 1,33 persen lantaran dikurangi oleh pertumbuhan impor yang mencapai 12,75 persen. Sedangkan konsumsi lembaga non profit dan pendukung rumah tangga tumbuh 8,09 persen.
Sumbangan net ekspor terkontraksi lantaran surplus neraca perdagangan menipis bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tiga bulan pertama tahun ini, surplus hanya sekitar US1,09 miliar, lebih rendah dari Januari-Maret 2017 mencapai US$4,09 miliar. Hal ini lantaran nilai ekspor Indonesia sebesar US$44,27 miliar dan nilai impor mencapai US$43,98 miliar pada Januari-Maret 2018.
Secara keseluruhan, laju aju pertumbuhan kuartal I 2018 lebih tinggi bila dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya 5,01 persen (yoy). Namun, masih lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2017 yang mampu tumbuh hingga 5,19 persen (yoy).
Angka itu juga jauh di bawah ekspektasi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa menyentuh angka 5,2 persen pada tiga bulan pertama di tahun ini. Sedangkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W Martowardojo memperkirakan, ekonomi tumbuh 5,11 persen pada kuartal I 2018. (lav)
Baca Di sini https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180507132547-532-296266/bps-pertumbuhan-ekonomi-terselamatkan-laju-investasi
No comments:
Post a Comment